Pengelolaan Kawasan Tepian Sungai yang Berkelanjutan di Kelurahan Kuin Utara
Keywords:
Pengelolaan Kawasan, Tepian SungaiAbstract
ABSTRAK: Kota Seribu Sungai Banjarmasin, pemerintah kota memfasilitasi prasarana dan sarana transportasi umum yang menghubungkan antara Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru. Namun hal sebaliknya, pengelolaan dermaga untuk memfasilitasi perahu-perahu kelotok yang beroperasi di sungai-sungai di Banjarmasin kurang diperhatikan. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa penyediaan fasilitas di darat lebih diprioritaskan ketimbang di kawasan tepian sungai. Kota Banjarmasin memiliki sungai yang lebih banyak dibandingkan dengan daratan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa budaya sungai belum memiliki hak yang sama dengan budaya darat. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman pengelolaan kawasan tepian sungai kepada masyarakat lebih khusus kepada masyarakat kelurahan kuin utara dalam melaksanakan suatu tanggung jawab terhadap lingkungan. Kegiatan dilaksanakan secara offline. Peserta kegiatan sosialisasi pengelolaan kawasan tepian Sungai adalah masyarakat kelurahan kuin utara dan beberapa kader masyarakat kampung iklim dan mahasiswa prodi ilmu administrasi publik Fisip Uniska MAB
Kata kunci : Pengelolaan Kawasan, Tepian Sungai
ABSTRACT: The City of a Thousand Rivers of Banjarmasin, the city government facilitates infrastructure and public transportation facilities that connect the city of Banjarmasin and the city of Banjarbaru. However, on the other hand, the management of the pier to facilitate kelotok boats operating on rivers in Banjarmasin is not paid much attention. This condition reflects that the provision of facilities on land is prioritized over in riverside areas. The city of Banjarmasin has more rivers compared to the mainland. This indicates that river culture does not have the same rights as land culture. The purpose of this activity is to provide an understanding of the management of riverside areas to the community, especially to the people of North Kuin Village in carrying out a responsibility to the environment. The management of the river environment is certainly the responsibility of many parties. The management of riverbank areas requires the active role of academics, the media, the private sector, the government and also the community. Academics play a role in knowledge and technology development, policy recommendations and fact-based and science-based planning. Then the media plays a role in building and influencing public opinion, as a means to communicate policies.
Keywords: Area Management, Riverbanks
References
bbas, E. W., Winarso, H. P., & Meilina, N. (2019). Religious Activities at Sultan Suriansyah Mosque, Banjarmasin. The Innovation of Social Studies Journal, 1 (1), 55-64
Haba, J. (2007). Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku, dan Poso. Jakarta: ICIP dan European Commission.
Ideham, M. S. (2005). Urang Banjar dan Kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Ideham, M. S. (2007). Sejarah Banjar. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Istiqomah, E., & Setyobudihono, S. (2017). Nilai Budaya Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan: Studi Indigenous. Jurnal Psikologi Teori dan Terapan, 5 (1), 1-6.
Keraf, A. (2010). Kearifan Lokal. Jakarta : Kompas.
Lawang, R. M. (2004). Kapital Sosial Dalam Perspektif Sosiologi: Suatu. Pengantar. Depok: FISIP UI Press.
Usman, A. G. (1989). Urang Banjar Dalam Sejarah. Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Beni Akhmad, Dewi Merdayanty, Riska Aulia Noor, Fika Fibriyanita, Khairullah Ansari, Deli Anhar

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



